Journey To The East

Perjalanan kembali membawa saya ke salah satu sudut negeri ini, tempat dimana mutiara hitam nusantara berada. Sebuah lembah subur di tengah jantung pergunungan tinggi papua, lembah yang sangat indah dan sejak lama telah didiami oleh suku Dani, Lembah Baliem namanya.

Terletak di tengah pergunungan Jayawijaya, Lembah Baliem hanya bisa diakses dari udara. Penerbangan 40 menit dari Jayapura rasanya tidak akan membosankan, karena kita akan ditemani oleh pemandangan yang indah, gunung dan bukit – bukit hijau akan menghiasi di sebelah kiri dan kanan jendela pesawat sepanjang perjalanan.

Rasa kagum rasanya terus saja mengalir di benak saya sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini. Bagaimana tidak? Wamena ini adalah sebuah lembah sejuk yang dianugerahi pemandangan yang luar biasa indah. Bukit-bukit hijau nan subur yang dialiri oleh sungai Baliem, kampung-kampung suku Dani yang masi dibangun secara tradisional menggunakan bahan – bahan dari alam, gua raksasa dengan stalagtit serta stalagmit yang umurnya mungkin sudah ribuan tahun, serta banyak lagi hal yang membuat setiap sudut lembah ini terasa indah.

Tidak hanya keindahan alam, kultur budaya dan keramahan warga disini juga membuat saya kagum. Salah satunya adalah ketika saya melakukan tracking ke desa Kilise di Distrik Kurima. Di sepanjang perjalanan, kita akan disapa dengan hangat, entah itu ucapan selamat pagi, jabatan tangan, ucapan “wa wa wa” (artinya selamat datang, terima kasih), bahkan juga pelukan, kita diperlakukan seperti keluarga sendiri walaupun baru pertama kali bertemu. Desa ini adalah salah satu Desa Wisata yg cukup menarik, karena kita bisa menginap di honai (rumah tradisional masyarakat lokal), sehingga kita bisa merasakan langsung kehidupan sehari – hari mereka.

Suku Dani

Tidak heran juga kalau melihat ada warga yang memakai koteka disini, beginilah hidup masyarakat suku Dani yang masih mempertahankan tradisi dan kultur budaya nenek moyang yang diturunkan sejak dulu kala. Mama-mama membuat noken (tas tradisional Papua) untuk mengisi waktu luang, anak-anak berlari dan bermain dengan di lapangan hijau, tanpa gadget mewah, bahkan listrik saja tidak ada disini, akan tetapi mereka hidup dengan bahagia sekali. Kami sempat berpapasan dengan beberapa anak – anak, dan kami memberinya beberapa buku dan juga permen, senang sekali bisa melihat senyuman dan tawa polos mereka. Kita juga bisa membeli oleh – oleh di desa ini, seperti koteka, bulu kuskus, taring babi, dan juga tulang kasuari.

Hal menarik lainnya adalah, kita bisa menemukan tradisi pembuatan mumi di tempat ini, namun untuk pembuatan mumi tentunya tidak sembarangan orang. Biasanya hanya untuk orang-orang yang memiliki peran penting dalam sebuah desa. Seperti di Distrik Jiwika, ada mumi yg sudah berumur 373 tahun, Wim Matok Mabel namanya, yang dulunya merupakan panglima perang. Uniknya, pembuatan mumi disini dengan cara diasapkan sehingga mayatnya nanti berubah menjadi warna hitam dan kemudian nantinya disimpan di Honai.

Suku Dani, Lani, Yali, sejak dulu dikenal sebagai suku yg suka berperang, perang bagi mereka bukan hanya sekedar adu kekuatan, akan tetapi melambangkan kesejahteraan dan juga kesuburan, darah dari peperangan akan membawa kesuburan bagi ladang dan hewan ternak. Untuk menghindari jumlah korban jiwa dan juga untuk melestarikan budaya, dibuatlah sebuah festival, yg dinamakan Festival Lembah Baliem.

Festival ini hanya diadakan setahun sekali dan selalu ditunggu-tunggu oleh para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Festival budaya ini menampilkan atraksi perang-perangan, karapan babi, tari-tarian, dan juga bakar batu yg merupakan acara penting di tanah Papua ini. Festival ini diikuti oleh hampir seluruh distrik yg ada di Lembah Baliem, sehingga kita bisa melihat keragaman budaya masing-masing distrik disini. Dari distrik yg paling dekat yaitu distrik Walesi sampai dengan distrik Trikora yg katanya membutuhkan 7 hari 7 malam berjalan kaki turut hadir disini. Kita bisa melihat gigihnya semangat dan antusiasme mereka dalam melestarikan budaya yg diwariskan secara turun temurun ini. Sambil menunggu giliran untuk tampil biasanya mereka akan menyanyi dan menari bersama agar tetap bersemangat, kita juga bisa ikut menari dan bernyanyi bersama dalam pesta rakyat ini, mereka akan dengan senang hati mengajak kita untuk ikut serta, seru sekali !

Seminggu disana rasanya terlalu cepat, hari berlalu begitu cepat ketika semua terasa indah. Sungguh, tanah Papua yg satu ini tidak pernah berhenti membuat saya kagum, keindahan alamnya, keramahan warga lokal, kegigihan mereka dalam melestarikan budaya membuat saya selalu ingin kembali ke tempat ini.

Saya berharap suatu saat, kaki saya bisa kembali menginjakkan kaki ke tanah ini, menuntun saya ke tempat yg belum pernah saya kunjungi sebelumnya dan kembali merasakan hangatnya masyarakat setempat, dan belajar lebih banyak hal lagi tentang kearifan lokal dan budaya bersama mereka.

About the author

Travel and Photography enthusiast

Leave a Reply